
Dimalam yang tidak cukup baik,cuaca hujan turun dengan sangat derasnya sehingga membuat kami dan teman-teman tetap semangat,memutuskan untuk berhenti sejenak,dikarenakan perlengkapan yang minim selain dari hal tersebut kami juga membawa serta istri dan anak-anak setelah hujan sedikit reda kami berinisiatif untuk melanjutkan perjalanan menuju ponpes yatim piatu yang diasuh oleh KH.QOSIM didaerah Cijingga.
Setelah tiba pada tempat yang kami tuju beliau langsung menyabut kedatang kami dan rombongan dengan penuh kehangatan serta rasa kekeluargaan yang begitu besar,sealin itu kami juga dikenalkan kepada istri serta anak beliau,anak pertamanya sudah mengenyam pendidikan agama didaerah karawang tepatnya didaerah rawamerta tanpa ditemani oleh orang tuanya,begitu besar semangat dan kecintaan beliau terhadap anak-anak yatim piatu terutama yang memang tidak mampu dari segi ekonominya.
Sejarah serta komitmen beliau dalam membuat serta mendirikan ponpes tersebut membuat kami merasakan haru yang teramat sangat,karena semua ini terwujud bukanlah atas keinginan seseorang ataupun kelompok tetapi pengalaman pribadilah yang membuat beliau melakukan ini semua,beliau merasakan bagaimana rasanya kelaparan,ustad qosimpun bercerita bagaimana sedihnya disaat teman-temannya dikunjungi serta diberikan sesuatu oleh orang tua meraka sedangkan beliau hanyalah menyendiri untuk melihat dan merasakan kebahagian teman-temannya.
Dengan berbekal informasi dan semangat yang beliau berikan untuk ponpes tersebut membuat kami merasakan betapa bangganya kami memiliki ustad,guru serta pembimbing yang arif serta bijaksana seperti beliau,tauladan serta semangat beliaulah yang wajib kita contoh,beliau melakukan ini semua tanpa pamrih sedikit pun,pesantren tersebut memiliki luas tanah sebesar 1700 meter persegi,selain itu beliaupun menyisihkan sedikit tanahnya untuk masa depan anak-anak beliau,sungguh pengalaman yang sangat berharga yang telah kami dapatkan setelah soan kepesantren serta rumah tinggal beliau ini adalah pengalaman yang amat berharga untuk kami semua,selain bercerita masalalu ustad qosim juga mengajarkan kepada kami cara memulai usaha dan yang terpenting adalah ilmu agama yang beliau miliki tanpa sungkan lansung memberikannya walau cuma beberapa ayat setalah kami berbincang cukup panjang diiring oelh pertanyaan seputar agama dan sebagainya kami disuguhkan makanan khas sunda yang cukup populer adalah Nasi Liwet dan ini baru kami rasakan bukan nasinya yang spesial tetapi dimasak oleh anak-anak pesantren sendiri dan kami menikmatinya bersama-sama.
Tanpa kami sadari karena ditemani oleh hujan yang tak kunjung reda yang beliau dan kita ketahui hujan adalah rahmat bagi kita semua sempat mengurungkan niat untuk kembali kerumah dengan alasan tersebut tetapi waktu terus berlalu,dan kamipun memutuskan untuk tetap kembali kerumah masing-masing,karena ustad qosim sendiri baru saja kembali ketanah air dari perjalanan yang panjang menunaikan ibadah haji.
Insya allah ini semua akan memberikan inspirasi kepada kita untuk tetap semangat dalam menjalankan serta melakukan sesuatu yang baik...